Cari Blog Ini

Jumat, 07 Desember 2012


CARA MEMBUAT KONEKSI INTERNET MENJADI SUPER CEPAT (Bagian 1)

 >>Mungkin yang namanya browsing Internet dengan kecepatan yang tinggi 
sangatlah sulit, apalagi jika browsingnya di warnet atau memakai modem... Duch.... Pasti nyebalin, plus lemot banget.
Rasanya koneksi cepat, merupakan barang langka di Indonesia. Dan kalau mau cepat, paling harus lewat Wifi.. Dan itu pun, kalau Anda beruntung mendapat bandwith yang besar...

>>Oh iya, langsung saja kita ke topik semula. Berbagai cara dilakukan untuk mempercepat koneksi internet baik menggunakan software agar koneksi internet menjadi lebih cepat maupun menggunakan settingan tertentu
yang diklaim bisa mempercepat koneksi internet, dalam hal ini merubah DNS Server, (masalah DNS Server akan di bahas pada postingan berikutnya)

>>Berikut ini adalah tips yang dapat digunakan untuk mempercepat koneksi internet (terbukti koq):

>>Menggubah setting bandwith pada windows
Asal tahu aja, bahwa OS windows sudah membatasi bandwidth untuk koneksi internet sebanyak 20% dari total bandwidth yang
seharusnya bisa maksimal, jika netter ingin menambah bandwidth internet supaya koneksinya terasa lebih cepat dan kencang, dapat dilakukan dengan cara mengurangi ataupun mengosongkan batasan bandwidth tersebut.

>>Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut (khusus windows XP):
1. Klik Start
2. Klik Run
3. Ketik gpedit.msc lalu OK
4. Selanjutnya klik Administrative Templates pada bagian computer configuration
5. Lalu klik Network
6. Langkah berikutnya klik QoS Packet scheduler
7. Klik Limit Reservable Bandwidth
8. Pada bagian setting pilih enable
9. Berikutnya ubah Bandwidth Limit (%) menjadi 0
10. Klik Apply dan Ok
11. Terakhir close dan restart komputer atau Laptop Anda..

Kamis, 06 Desember 2012


Mempersiapkan Diri Sebelum Memasuki Dunia Kerja



Mempersiapkan Diri Sebelum Memasuki Dunia Kerja
Seiring dengan terus berkembangnya zaman, dunia kerja dan karir juga terus menerus mengalami perkembangan dan perubahan. Salah satu hal yang paling menonjol yang membedakan dunia kerja pada masa dahulu dan sekarang adalah akses. Dahulu, mencari lowongan pekerjaan sangatlah susah. Seseorang harus berjalan memasuki gedung demi gedung perusahaan dan memberikan map berisi resume serta surat lamaran mereka dan berharap mereka akan mendapatkan panggilan kerja baik via pos maupun telepon. Pada saat ini, hal seperti itu hampir tidak pernah terjadi lagi. Para job seekerdapat mencari tahu mengenai lowongan kerja via internet, dan bahkan dapat mengirimkan lamaran online.
Dahulu, status pemberi kerja terkesan lebih tinggi dibanding pencari kerja. Namun untuk saat ini, posisi tersebut dapat dikatakan tidak berlaku lagi. Pemberi kerja dan pencari kerja berada pada posisi yang sama, dan saling membutuhkan. Secara ideal, keduanya memiliki senjata yang digunakan untuk mempertemukan kebutuhan satu sama lain. Dari pihak pencari kerja misalnya, senjata yang dibutuhkan dan perlu untuk dimiliki adalah pengetahuan, keterampilan, serta sikap kerja yang dapat menarik perhatian perusahaan untuk mempekerjakannya. Sebaliknya dari pihak pemberi kerja, memiliki deskripsi dan spesifikasi jabatan yang jelas dan dapat menarik perhatian para job seekeryang berkompetensi untuk memasukkan lamaran.
Ada dua alasan utama yang menyebabkan sebuah perusahaan secara rutin terus mencari pegawai. Yang pertama adalah untuk mengisi kekosongan jabatan, misalnya ada pegawai yang akan segera pensiun. Maka perusahaan akan mencari seseorang yang akan menggantikannya sebelum yang bersangkutan berakhir masa kerjanya. Alasan yang kedua adalah untuk pengembangan perusahaan. Kedua hal ini yang kemudian akan membantu membentuk manpower planning dari perusahaan tersebut. Dari planning itulah kemudian ditentukan SDM dengan kompetensi seperti apa yang dibutuhkan oleh perusahaan, baru kemudian dibuka rekruitmen untuk mengisi kompetensi yang dibutuhkan tersebut.
Hal yang penting untuk diketahui pula oleh calon pelamar kerja adalah, kompetensi apa yang mereka miliki. Sehingga dalam melamar sebuah pekerjaan tidak hanya sekedar untuk melepaskan diri dari predikat “pengangguran”, namun juga dapat dengan baik memenuhi kompetensi yang dibutuhkan. Pengertian kompetensi itu sendiri adalah sebuah atau satu set pengetahuan dasar, keahlian, atau attitude dalam sebuah area subjek yang spesifik.
Dalam dunia kerja, ada tantangan-tantangan yang harus dihadapi oleh para pencari kerja. Seiring berjalannya waktu, tantangan-tantangan ini pun terus mengalami perubahan. Ada perbandingan-perbandingan yang cukup jelas antara tantangan dunia kerja dahulu dan sekarang. Antara lain, dulu yang menjadi fokus adalah perusahaan mampu memenuhi tuntutan pasar, sementara sekarang perusahaan harus mampu mempengaruhi tren pasar. Dahulu perusahaan berusaha untuk mencapai standar kualitas produk, sementara sekarang perusahaan harus bisa melakukan inovasi. Dahulu, operasi dilakukan secara manual, yaitu dengan SDM. Sekarang, operasi dilakukan secara otomatis yaitu dengan teknologi. Dahulu, perusahaan secara sederhana hanya mencari pekerja atau worker. Sekarang, yang dicari adalah knowledge worker, yaitu pekerja yang berpengetahuan. Dahulu, perusahaan memiliki kecenderungan homogenitas, sementara sekarang lebih heterogen. Perusahaan dahulu memiliki banyak pegawai, atau dapat pula disebut multi people. Sekarang, pegawai yang dimiliki tidak banyak namun dapat melakukan multi tugas, atau disebut pula multitasking person. Dahulu, etika tidak terlalu diperhatikan, namun sekarang etika telah menjadi bagian dari hukum. Hubungan antara atasan dan bawahan dahulu lebih formal, sangat memperhatikan hierarkis serta senioritas. Saat ini, lebih cenderung informal, mereka yang berada di atas, atau yang maju bukan berdasarkan lamanya seseorang bekerja di sebuah perusahaan, ataupun usianya yang lebih tua, namun lebih kepada kompetensinya. Semua pekerja sejajar dan yang membedakan adalah kompetensi.
Dahulu, perusahaan tidak begitu mempedulikan lingkungan, bahkan cenderung melakukan eksploitasi. Namun pada masa sekarang perusahaan lebih memperhatikan dampak yang ditimbulkan oleh produk mereka dan berusaha untuk lebih ramah terhadap lingkungan. Dahulu, fokus perusahaan lebih kepada lokal yang kemudian merambah ke nasional. Saat ini, fokus tersebut menjadi lebih melebar, dari regional hingga ke global.
Untuk menghadapi tantangan-tantangan di dunia kerja pada masa sekarang, maka seorang job seeker perlu untuk mempersiapkan diri. Persiapan-persiapan ini guna meningkatkan kompetensi seorang job seeker, agar dapat menjadi Sumber Daya Manusia yang lebih berkualitas. Hal-hal tersebut antara lain kemampuan leadership danentrepreneurship, kemampuan berinovasi, melek teknologi, kemauan untuk terus menerus belajar, memiliki kemampuan untuk sensitif terhadap kebudayaan yang berbeda, memiliki pola pikir luas dan memiliki lebih dari satu keahlian, memiliki motivasi dan komitmen yang tinggi, serta global minded dan kemampuan bahasa asing yang baik.
Sebuah perusahaan akan lebih menyukai untuk merekrut seseorang yang biasa saja, dalam artian bukan seorang jenius, daripada harus merekrut seseorang yang sudah terlalu pintar. Alasannya karena  seseorang yang biasa saja tapi memiliki kemampuan untuk terus belajar akan lebih baik bagi perusahaan daripada seseorang yang sudah terlalu pintar dan merasa telah memiliki cukup ilmu untuk melakukan berbagai hal.
Seorang job seeker juga perlu untuk mengetahui skema umum jenjang karir yang kemungkinan akan ia hadapi pada saat melamar sebuah pekerjaan. Yang paling pertama dihadapi pastinya adalah rekruitmen. Dalam rekruitmen yang diperhatikan adalah quality of worklife, CV atau resume, serta seleksi. Dalam rekruitmen yang biasa akan diperbincangkan adalah remunerasi, karakteristik jabatan, dan jenjang karir. Selain itu calon pegawai yang melamar juga akan dihadapi dengan tes-tes seperti tes potensi akademik, tes psikologi, serta tes-tes lain yang berhubungan dengan pekerjaan atau tugas-tugas yang akan dilakukan oleh posisi yang dilamar oleh sang job seeker.
Setelah seseorang melewati tahap rekruitmen, dan kemudian terpilih untuk masuk ke dalam sebuah perusahaan, maka tahap yang selanjutnya harus dijalani adalah orientasi. Tahap ini tujuannya adalah untuk memahami core business dari perusahaan, mengenal lebih dalam struktur organisasi yang ada di dalam perusahaan, dan memahami budayanya.
Setelah menyelesaikan orientasi, maka seseorang akan benar-benar memulai karirnya sebagai karyawan di perusahaan tempat ia diterima. Salah satu tahap penting yang akan dilalui pula oleh karyawan tersebut adalah rotasi. Yang dimaksud dengan rotasi di sini adalah perpindahan yang akan dialami oleh sang karyawan. Baik ke divisi, maupun ke kantor yang menjadi cabang dari perusahaan tempat ia bekerja. Tujuannya adalah untuk belajar, beradaptasi, serta meningkatkan keterampilan komunikasi si karyawan tersebut.
Tahap selanjutnya yang secara umum akan dilewati dalam meniti karir di sebuah perusahaan adalah training. Perusahaan biasanya memberikan training atau pelatihan untuk karyawan-karyawannya sebagai usaha pengembangan diri, transfer ilmu atau teknik baru, pemecahan masalah, serta memberikan motivasi.
Ketika seseorang sudah cukup lama bekerja di sebuah perusahaan, dan menunjukkan performa yang baik, maka tahap selanjutnya yang akan dilalui adalah promosi. Promosi di sini berarti kenaikan pangkat atau jabatan sesuai dengan kompetensi dan prestasi yang dicapai oleh sang karyawan. Promosi akan membawa karyawan pada posisi dan karir yang lebih baik, namun sekaligus pula memiliki resiko serta tanggung jawab yang lebih besar.
Jika seseorang terus menerus mendapatkan promosi karena prestasi serta performanya yang baik, maka ia akan sampai pada tahap manajerial. Pada tahap ini, seseorang sudah bukan lagi dianggap sebagai karyawan dari perusahaan tersebut, melainkan telah dikategorikan dalam level kepemimpinan. Dalam tahap ini, seseorang diharapkan memiliki kemampuan dalam hal kepemimpinan seperti inovasi dan public speaking. Sebab perannya yang semakin besar antara lain seperti pengambilan keputusan serta pemecahan masalah yang akan memberikan pengaruh pada kemajuan perusahaan.
Sebelum bersungguh-sungguh memasuki dunia kerja dan memantapkan karir bersama perusahaan atau instansi tertentu, satu hal yang sangat penting untuk dipersiapkan adalah CV atau resume. Dari sini calon perusahaan atau instansi tempat kita bekerja akan mengetahui mengenai siapa kita dalam masa yang singkat. Resume dapat pula dikatakan sebagai salah satu seni bercerita. Untuk dapat maju ke langkah selanjutnya dalam sebuah seleksi kerja, maka baik atau tidaknya sebuah resume sangat menentukan. Sebuah resume haruslah menunjukkan visi pribadi dari si empunya, dan menjelaskan mengenai pengalaman kerja ataupun organisasi serta job description dari pengalaman-pengalaman tersebut. Yang tak kalah penting juga adalah menitikberatkan pada pencapaian positif yang telah kita capai, serta menyoroti keterampilan yang ingin kita tonjolkan, dan lebih baik lagi disertai dengan bukti.

Rabu, 05 Desember 2012

Menemukan Makna Kehidupan

Makna Pekerjaan


Pertama, pekerjaan sebagai sarana untuk mencari nafkah. Tampaknya inilah makna pekerjaan yang paling dasar dan ada dalam diri setiap pencari kerja. Minimal, didorong oleh keinginan agar tidak menjadi beban bagi orang lain, seseorang akan berusaha menemukan pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Cara pandang seperti ini tidaklah salah. Namun jika seseorang hanya memandang pekerjaan sebagai sarana untuk mencari nafkah maka ia akan cepat merasa bosan dan melihat pekerjaannya sebagai sebuah beban. Sangat sulit baginya menemukan kesenangan dalam bekerja. Bagaimana mengatasi hal ini? Cobalah memandang pekerjaan dari sisi lainnya.

Kedua, pekerjaan sebagai sarana untuk mengekspresikan potensi diri. Seorang pemuda yang sejak kecil hobi bermain komputer pernah ditanya mengapa ia memilih pekerjaan di bidang information technology (IT)? Sambil tersenyum, ia menjawab, "Saya menyukai pekerjaan ini dan melalui pekerjaan ini saya menemukan siapa diri saja!" Wow, sebuah jawaban yang luar biasa!

Ketiga, pekerjaan sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri. Seorang mahasiswa sejak kuliah sangat aktif menulis untuk media kampus. Suatu ketika, saat musim liburan semester, ia mendapat kesempatan untuk magang di sebuah majalah berita mingguan terkemuka di negeri ini. Kesempatan magang tersebut tidak disia-siakan. Ia memanfaatkannya semaksimal mungkin dengan belajar dari wartawan-wartawan senior di kantornya. Ia juga tidak segan-segan meminta masukan atas tulisan yang dibuatnya. Terkadang memang timbul rasa kecil hati manakala begitu banyak kritikan ia terima. Namun ia bersikap terbuka dan belajar untuk terus memperbaiki diri.
Seusai masa magang ia kemudian memperoleh pekerjaan di majalah yang sama. Tekadnya untuk terus mengembangkan diri membuatnya mengambil kursus jurnalistik tingkat lanjut dengan biaya sendiri. Ia juga membeli puluhan buku jurnalistik, membacanya dan mendiskusikannya dengan mereka yang dianggap ahli di bidang tersebut. Tahun berganti tahun dan kini kualitas tulisannya telah meningkat jauh. Ia juga telah berhasil menulis sejumlah buku yang masuk kategori best seller.

Keempat, pekerjaan sebagai sarana untuk belajar hal-hal baru. Ada mitos yang mengatakan kalau bagian keuangan di sebuah perusahaan selalu berbenturan dengan bagian pemasaran. Namun hal itu tampaknya tidak berlaku bagi Linda. Meski dikenal sebagai seorang staf keuangan, Linda dikenal juga memiliki pengetahuan yang amat baik dalam bidang pemasaran, penjualan dan sebagainya. Mengapa? Ia termasuk orang yang gaul. Ia berteman dengan staf dari bagian lain di perusahaannya dan makin menyadari kalau kesuksesan perusahaan ditentukan oleh kontribusi semua bagian.

Kelima, pekerjaan sebagai sarana untuk memperluas jaringan. Linda dalam contoh sebelumnya adalah tipe karyawan yang unggul dalam membina hubungan baik. Ia juga berhubungan dengan staf keuangan dari perusahaan lainnya yang berada di gedung yang sama. Ia juga aktif dalam asosiasi sesuai dengan profesinya dan mengikuti sejumlah mailing list yang berhubungan dengan pekerjaannya. Tidak heran jika Linda termasuk orang yang sangat mudah untuk mendapatkan berbagai informasi penting.

Keenam, pekerjaan sebagai sarana untuk melayani orang lain. Alan Loy McGinnis benar ketika mengatakan tidak ada pekerjaan yang lebih mulia di dunia ini ketimbang membantu orang lain -membantu seseorang meraih kesuksesan (there is no more noble occupation in the world than to assist another human being -to help someone succeed). Betapa berartinya hidup ini jika kita menyadari apa yang kita lakukan membawa manfaat bagi sesama, minimal bagi rekan kerja kita, perusahaan kita dan bagi customer yang menggunakan produk atau jasa kita. Betapa bahagianya kita jika kita sungguh mengetahui produk atau jasa kita dapat membantu meningkatkan kualitas hidup orang lain atau membantu mereka memecahkan masalah mereka. Sayangnya, masih banyak orang yang cenderung mengutamakan profit atau upah di atas segalanya. Padahal jika kita mau memberikan yang terbaik, semuanya itu akan datang dengan sendirinya. Apa yang kita tabur akan kita tuai!

Ketujuh, pekerjaan sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menjadi wirausaha (entrepreneur). Ketika memberikan pelatihan kepada 110 karyawan terbaik sebuah bank terkemuka di negeri ini, beberapa di antara mereka menyatakan kekecewaannya karena sudah lama bekerja namun tidak juga naik jabatan. "Saya sudah bekerja lebih dari 15 tahun. Teman-teman seangkatan saya sudah pada jadi kepala cabang, tinggal saya," begitu kata mereka. Saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan namun saya juga mengingatkan mereka untuk tidak kecil hati. Saya ingat nasihat seorang pengusaha sukses mengenai kapan waktu yang paling tepat bagi seorang karyawan untuk terjun berwirausaha. "Salah satunya adalah ketika Anda bisa mengurus diri Anda sendiri tanpa disuruh-suruh orang lain. Sebab sebagai pengusaha, Anda harus mampu mengatur diri Anda sendiri dengan baik karena Andalah pemimpinnya," katanya. Sebuah nasihat yang sangat berharga!


Kedelapan, pekerjaan sebagai sarana ibadah. Saya ingin agar nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup dan karya saya. Hasrat terbesar saya adalah agar pada suatu hari saya bisa mendengar-Nya berkata : "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Itulah saat yang sangat saya rindukan, ujar seorang sahabat. Bagaimana menurut Anda?

Makna Sebuah Pekerjaan



Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.



”Om beli bunga Om.”
”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.
”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil.
Setengah kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo Om butuh Om akan beli bunga dari kamu.”
Mendengar ucapan si pemuda, gadis kecil itu pun kemudian beralih ke orang-orang yang lalu lalang di sekitar kafe itu. Setelah menyelesaikan istirahat siangnya,si pemuda segera beranjak dari kafe itu. Saat berjalan keluar ia berjumpa lagi dengan si gadis kecil penjual bunga yang kembali mendekatinya. ”Sudah selesai kerja Om, sekarang beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.”

Bercampur antara jengkel dan kasihan sipemuda mengeluarkan sejumlah uang dari sakunya. “Ini uang 2000 rupiah buat kamu. Om tidak mau bunganya, anggap saja ini sedekah untuk kamu,” ujar si pemuda sambil mengangsurkan uangnya kepada si gadis kecil.
Uang itu diambilnya, tetapi bukan untuk disimpan, melainkan ia berikan kepada pengemis tua yang kebetulan lewat di sekitar sana. Pemuda itu keheranan dan sedikit tersinggung.
”Kenapa uang tadi tidak kamu ambil, malah kamu berikan kepada pengemis?”
Dengan keluguannya si gadis kecil menjawab,
”Maaf Om, saya sudah berjanji dengan ibu saya bahwa saya harus menjual bunga-bunga ini dan bukan mendapatkan uang dari meminta-minta. Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.”
Pemuda itu tertegun, betapa ia mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari seorang anak kecil bahwa kerja adalah sebuah kehormatan, meski hasil tidak seberapa tetapi keringat yang menetes dari hasil kerja keras adalah sebuah kebanggaan. Si pemuda itu pun akhirnya mengeluarkan dompetnya dan membeli semua bunga-bunga itu, bukan karena kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinan si anak kecil yang memberinya pelajaran berharga hari itu.Tidak jarang kita menghargai pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita perjuangkan.

Cerita Motivasi: Makna Sebuah Pekerjaan

Cerita Motivasi: Makna Sebuah Pekerjaan: Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis keci...

Sang Pemenang: Layout Toko

Sang Pemenang: Layout Toko